Pendidikan, Proses Hominisasi dan Humanisasi Sekaligus

sarjanaSalah satu pandangan Driyarkara tentang pendidikan (Driyarkara: 1980, hal. 80-90), Pendidikan itu membuat manusia semakin manusiawi, yaitu mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi (humanisasi).

Setiap kali memasuki bulan Juni dan Juli, maka bisa dipastikan bahwa masyarakat kita akan selalu disibukkan dengan masalah pendidikan, atau lebih tepatnya masalah sekolah. Mulai dari bagaimana memilih sekolah yang berkualitas –yang sesuai dengan “koceknya”- sampai dengan kesibukan untuk mencari segala kelengkapan sekolah, mulai dari seragam sampai dengan buku-buku yang nyaris tiap tahun berganti dan semakin mahal. Bisa kembali dipastikan juga berapa besar tambahan biaya yang harus dikeluarkan. Tentu saja pengeluaran yang begitu besar ini dibarengi dengan harapan akan pendidikan yang lebih baik bagi putra-putrinya. Namun, kita bisa bertanya dan berefleksi bersama: benarkah para orang tua sudah mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang telah mereka korbankan?

Industrialisasi Pendidikan
Fenomena tersebut ditandai dengan berkembangnya konsep pengelolaan sekolah layaknya sebuah pabrik. Sebenarnya konsep semacam ini sudah ada semenjak pertengahan abad ke 19, bersamaan dengan berkembangnya industri-industri. Ide di balik konsep ini adalah menjadikan sekolah layaknya sebuah pabrik. Sistem kontrol melalui supervisi berkesinambungan atas perilaku dan kinerja sebagaimana terjadi dalam dunia industri, misalnya, lantas dipakai sebagai model bagi administrator sekolah. Siswa menjadi semacam bahan dasar. Guru-guru sebagai semacam teknisinya dengan kurikulum sebagai alat produksinya. Sehingga lantas orientasi seluruhnya adalah kelulusan siswa sebagai hasil produksi yang ingin dicapai. Pelajaran yang tidak menunjang hasil akhir (kelulusan lewat UN) – seperti sejarah, Geografi, Seni, Olah Raga, dan lain-lain – disingkirkan diganti mata pelajaran-mata pelajaran yang keluar dalam UN. Maka tak ayal lagi biaya pendidikan (lebih tepatnya biaya sekolah) dari tahun ke tahun semakin tinggi. Pendidikanpun lantas tidak mengenai, atau bahkan lebih tepatnya tidak mengembangkan, sisi hidup anak didik secara utuh.

Pendidikan: menurut seorang Driyarkara
Ada berbagai macam bentuk dan nama pendidikan, namun pada hakekatnya pendidikan adalah satu, yaitu mengembangkan semua potensi daya manusia menuju kedewasaan sehingga mampu hidup mandiri dan mampu pula mengembangkan tata kehidupan bersama yang lebih baik sesuai dengan tantangan atau kebutuhan jamannya. Dengan kata lain, pendidikan adalah mengembangkan human dignity, yaitu harkat dan martabat manusia, atau humanizing human, yaitu memanusiakan manusia. Proses inilah yang oleh Driyarkara disebuat sebagai proses humanisasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa melalui pendidikan yang diterimanya manusia tidak hanya mengetahui kebutuhan akan makanan sebagai pemenuhan rasa laparnya, akan tetapi ia juga mampu sampai pada bagaimana mengolah makanan (seni memasak), bagaimana mengusahakannya (seni bertanam atau juga berdagang), bagaimana mengembangkan tanaman (teknologi), bahkan juga sampai pada cara bagaimana makan yang baik (etiket makan).

Tiga Tanggapan
Masyarakat kita mengalami gerak globalisasi, masa yang ditandai dengan perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi dan informasi. Kemajuan teknologi komunikasi telah membuka batas-batas yang mengisolasi manusia. Lantas lahirlah masyarakat terbuka di mana terjadi aliran bebas informasi, manusia, perdagangan dan aktivitas-aktivitas global lainnya. Muncullah apa yang disebut sebagai kebudayaan global.
Manusia di tengah budaya global ini perlu mempunyai identitas diri yang kuat agar mampu memasuki globalisasi dengan baik. Semua ini menuntut suatu pendidikan yang sesuai, yang mampu mempersiapkan manusia sebagai warga Negara yang punya identitas diri yang kuat sekaligus mempunyai visi global untuk membangun dunia.

Pertama, perlu digagas konsep pendidikan yang sungguh mampu melepaskan diri dari konsep-konsep industrialisasi. Memang sebuah pekerjaan yang berat, karena menyangkut sistem pendidikan nasional kita. Akan tetapi kita bisa memulainya dari sekolah-sekolah katolik yang ada di keuskupan ini. Identitas katolik yang dikenakan sebagai identitas sekolah perlu senantiasa digali dan disadari. Prinsip-prinsip solidaritas dan subsidiaritas perlu dijalankan lagi. Konsep konsep yang gampang dalam tataran wacana dan pengertian, akan tetapi menjadi susah ketika memasuki ranah praksis, lebih-lebih bila sekolah tersebut telah kuat secara finansial. Perlu di sadari peran sekolah katolik sebagai pusat pembentukan manusia dan dalam tugasnya mewartakan penyelamatan Allah (Gravissimum Educationis).

Kedua, menggagas kembali peran dan fungsi sekolah. Pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua (Familiaris Consortio art 36). Sekolah adalah lembaga pendidikan kedua setelah keluarga, bersifat formal dan tidak kodrati. Disebut demikian karena dalam sebuah keluarga tidak selamanya tersedia kesempatan bagi orang tua untuk terus mendidik anaknya, sehingga orang tua lantas menyerahkan tanggung jawab ini kepada sekolah.

Sekolah harus senantiasa menyadari perannya sebagai lembaga yang bertugas mengembangkan akal budi anak didik (penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi) sekaligus menumbuhkan kemampuan untuk memberi penilaian yang cermat dan meningkatkan kesadaran akan tata nilai (seni, budaya, etika/moral, religi). Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil dari buah pikiran manusia, yaitu daya-daya manusia yang mulia. Oleh karena itu perlu dijaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa mengabdi kesejahteraan manusia sedalam-dalamnya dan tidak di pergunakan untuk merosotkan martabat manusia. Dalam hal ini sekolah-sekolah katolik perlu kembali menggagas ide pastoral sekolah yang selama ini mungkin telah dilupakan.

Ketiga, para guru perlu menjalankan peran mereka sebagai seorang pendidik. Pendidikan adalah sebuah proses pemberian ilmu dan sekaligus juga proses pemberian nilai (nilai hidup). Tugas guru yang semakin berat cenderung memberlakukan prinsip “manusia (guru) untuk kerja” bukan “kerja untuk manusia (guru)”. Aktualisasi diri guru sebagai subyek yang mendidik dan mengajar bisa tertekan. Sebagai seorang pengajar ia dituntut untuk dapat menyampaikan bahan ajar kepada anak sebaik mungkin. Sedangkan sebagai seorang pendidik ia dituntut untuk menjadi motivator, inspirator, korektor atas tingkah laku anak didik. Guru bukan hanya obyek kurikulum, penyampai kurikulum yang berinteraksi secara kaku dan tidak hidup, tetapi dia adalah subyek berpribadi yang mengungkapkan cita rasa, harapan, keprihatinan, dan refleksinya dalam aktivitas mengajar.

Menghadapi globalisasi dan industrialisasi dalam bidang pendidikan dewasa ini, maka masih relevanlah kita kembali merenungkan ide Driyarkara tersebut: pendidikan adalah proses hominisasi sekaligus humanisasi. Karena hal ini tidak hanya berimplikasi kepada guru dan siswa sebagai subjek langsung, tetapi juga sistem pendidikan dan pengelolaan sekolah secara menyeluruh. Semoga pendidikan kita dapat menjadi semakin baik.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *