Laus Deo, Natal di atas Kapal Rusak

DESEMBER tahun 1954, awal  tahun pertama sebagai Uskup Banjarmasin, Uskup Willy F. Demarteau, MSF merencanakan untuk  turne Natal ke hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Wilayah keuskupan Banjarmasin pada waktu itu meliputi seluruh Provinsi Kalimantan Tengah, Selatan dan Timur sekarang ini. Menurut rencana perjalanan sungai dari Samarinda ke hulu sungai Mahakam, akan ditempuh dengan kapal misi. Karena itu Uskup W. Demarteau, MSF memutuskan menumpang kapal dagang milik orang Tionghoa dari kota Samarinda menuju paroki Tering di Hulu Mahakam. Tanggal 22 Desember sore turne Natal dimulai. Ikut dalam turne Natal ini, Pater Schellekens, MSF dan Pater J. Romeijn, MSF (yang nanti menjadi Uskup I Keuskupan Samarinda).

Tanggal 23 Desember pagi hari, ketika semua penumpang masih tidur, motor kapal meledak dan tidak dapat diperbaiki ‘in loco’ (di tempat). Pater Romeijn  harus kembali ke Samarinda mencari kapal lain. Syukurlah kapal pos milik pemerintah sedang milir (menuju Samarinda). Pater Romeijn ‘ditransfer’ ke kapal pos itu. Sementara itu Pater Schellekens, MSF dan Uskup Banjarmasin, Mgr. W. Demarteau, MSF tinggal di atas kapal yang rusak itu. “Kami harus bersabar. Jelas kami tidak dapat merayakan Natal di Tering. Demikian tutur  Mgr. Demarteau, mengenang kejadian 56 tahun yang lalu. Para penumpang mengisi waktu dengan bernyanyi lagu-lagu Natal dan berdoa rosario dan juga bermain kartu. Pada tanggal 24 Desember (malam Natal), Pater Romeijn, MSF yang mencari kapal pengganti di Samarinda, kembali dengan membawa kapal pengganti.

Mgr. Demarteau, MSF

Alm. Mgr. Willy F. Demarteau MSF, Uskup Diosis Banjarmasin pertama. (Dok. Majalah Ventimiglia)

Pada hari Natal kedua, ketika banyak umat dari stasi-stasi sekitar Tering telah kembali dari perayaan Natal di Gereja, rombongan Uskup baru “masuk” ke pelabuhan Tering. “Semua pastor, suster dan umat sangat kecewa. Mereka telah menantikan perayaan Natal bersama Uskup. Celaka duabelas!”  Kembali Uskup Demarteau, MSF berkisah. Apa daya, motor kapal tumpangan itu meledak dan tidak ada pilihan lain selain bersabar dan menunggu kapal pinjaman lain. Sabar. Ya. Peristiwa Natal adalah peristiwa penuh dengan kesabaran. Kesabaran Maria dan Yosef di Gua Betlehem. Kesabaran penumpang dan Uskup di atas kapal rusak. Kesabaran Allah selama berabad-abad lamanya karena umat manusia tak kunjung bertobat.

Setelah perayaan Pesta keluarga Kudus di Tering, turne diteruskan ke pedalaman, Hulu Riam. Lebih jauh lagi dari Tering! “Tidak jarang kami harus tinggal di pinggir sungai karena permukaan sungai terlalu tinggi atau terlalu rendah, terutama di tengah-tengah riam!”, kenang bapak Uskup. Baru pada tanggal 23 Februari 1955, rombongan tiba di Long Pahangai. Kunjungan dilanjutkan ke kampung-kampung di sekitar Long Pahangai.

Satu setengah bulan Uskup “sibuk” di pedalaman. Sesungguhnya sudah tiga tahun, sejak tahun 1952, tidak ada kunjungan Uskup ke wilayah Hulu Mahakam. Setelah perayaan Paskah, rombongan kembali ke Tering bersama Pater Somboek MSF dan tiba di Tering pada tanggal 19 April 1955.

Mgr. Demarteau saaat membaca di Wisma Simeon, Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin (Dok. Ventimiglia)

Alm. Mgr. Willy F. Demarteau MSF dalam sebuah episode kehidupan saat beliau tengah membaca di Wisma Simeon, Banjarbaru, Keuskupan Banjarmasin (Dok. Majalah Ventimiglia)

Hampir setengah tahun (sejak Desember 1954), Mgr. W. Demarteau, MSF meninggalkan Kota Banjarmasin (pusat keuskupan). Pada tanggal 2 Mei 1955, Uskup tiba di Banjarmasin. “Perjalanan panjang selesai. Berat tetapi saya senang dan bersyukur melihat banyak orang di sana mencari Tuhan dan mengenal Kristus. Laus Deo! Pujian kepada para misionaris di sana yang bekerja dengan sangat serius.” Itulah yang dikatakan seorang Uskup yang sesungguhnya takut dengan air tetapi berani menyusuri seribu sungai untuk meneruskan jejak-jejak iman di bumi Borneo.

Sekali lagi Laus Deo! Pujian kepada Allah  atas jejak iman: di atas kapal rusak, di pinggir-pinggir sungai menanti pasang dan surut air sungai, di kampung-kampung dan di hati banyak orang yang mencari Tuhan. Semoga ketika Anak manusia datang, Ia menemukan iman di bumi, di dalam hati orang-orang yang sabar.

Romo Agus Doni Tupen MSF

Romo Agus Doni Tupen MSF

Pastor dan Ketua Komsos Keuskupan Banjarmasin

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *