Berawal dari Satu Bangku

Sejarah Pendirian Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda, Kelayan, Banjarmasin

Sebelum Perang Dunia II, beberapa orang Tionghoa non Katolik, diantaranya: Tjoe Bian Seng, Lim Eng Hin, Liam San Tjian membuka sebuah Sekolah Dasar (SD) eks Kapiten Tionghoa di RK Ilir 481. Setelah sekolah dibuka, mereka mengalami kesulitan untuk mengelola sekolah tersebut. Maka mereka meminta bantuan Pastor Johanes Groen, MSF (saat itu menjadi pembesar misi MSF) untuk mengelola sekolah tersebut. Selanjutnya Pastor Groen menunjuk Pastor S. Schoone, MSF yang tinggal di pastoran Katedral untuk menjadi kepala sekolah.

Rupanya Pastor Schoone menghadapi kesulitan untuk mendapatkan tenaga pengajar yang memiliki ijazah yang memadai bagi sekolah tersebut. Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar, maka dengan bantuan Vikaris Apostolik Pontianak, Kongregasi Bruder Santa Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak diminta untuk mengambil alih pengelolaan SD di RK Ilir tersebut.

Sesampainya di Banjarmasin pada tanggal 4 Oktober 1935, para Bruder MTB menghadapi kendala atas pengelolaan sekolah. Menurut peraturan Kongregasi MTB, para Bruder hanya diijinkan mengajar murid laki-laki, sementara itu murid-murid di SD RK Ilir terdiri dari laki-laki dan perempuan. Akhirnya diputuskan untuk membuka sekolah baru bagi murid-murid perempuan dan Pastor Schoone berupaya mencari pengelola sekolah untuk anak-anak perempuan tersebut melalui Dewan Jenderal MSF di Belanda.

Upaya ini membuahkan hasil hingga pada tahun 1937 Kongregasi Suster Fransiskanes Van Dongen (SFD) di Belanda mengutus lima orang suster untuk mengelola sekolah tersebut.

Saat Pastor J.M.M Kusters, MSF dilantik menjadi Prefek Apostolik Banjarmasin pada tanggal 19 Oktober 1938, dia mendengar bahwa di kampung Tionghoa (wilayah RK Ilir – Kelayan) di Banjarmasin ada sekolah, ada bruder, ada suster  dan ada pastor yang menangani sekolah, namun tidak ada gereja dan tidak ada pastor yang menangani karya misi. Padahal di tempat tersebut tidak ada orang Katolik. Pertimbangan inilah yang mendasari keputusan Mgr. Kusters, MSF untuk membangun gereja dan pastoran dari kayu di samping rumah suster SFD di Kelayan.

Tanggal 5 November 1939, Mgr. Kusters, MSF memberkati gereja di Kelayan atau gereja Tionghoa dengan nama pelindung “Immaculata Conceptio Beatae Maria Virginis” Nama itu diberikan oleh Mgr. Kusters, MSF untuk menghormati bruder-bruder dan suster-suster dari ordo ketiga. Pastor Adamus Janmaat, MSF diangkat menjadi pastor pertama dari gereja kedua yang didirikan di Banjarmasin itu. Saat itu belum ada umat Katolik, hingga upacara gerejani hanya dihadiri oleh para bruder MTB dan para suster SFD. Sebuah bangku dengan panjang tiga meter sudah cukup untuk menampung mereka.

Pemberkatan Gereja Santa Maria - 1939

Pemberkatan Gereja Santa Maria – 1939

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *