Berawal dari Kerinduan Para Pendatang

Sejarah Pendirian Paroki Santa Theresia, Pelaihari, Kalimantan Selatan

Sebelum Perang Dunia II, tercatat dua bayi dibaptis di Pelaihari. Sesudah Perang Dunia II, wilayah Pelaihari tidak mendapat kunjungan lagi. Saat itu Pelaihari masih termasuk Kabupaten Tanah Laut.

Sekitar tahun 1970, beberapa transmigran dari Jawa serta anggota TNI, Polri, Pegawai Negeri Sipil dari beberapa daerah di Indonesia masuk dan menetap di Pelaihari. Beberapa diantaranya Katolik. Pada awalnya para pendatang itu belum saling mengenal. Setelah saling mengenal, mereka kemudian mengadakan doa bersama dari rumah ke rumah. Ketika jumlah mereka semakin besar, ada inisiatif untuk memberi tahu pastor di Banjarmasin, agar mereka mendapatkan pelayanan. Sejak tahun 1977, pelayanan di wilayah ini ditangani dari Katedral Banjarmasin dan Pastor Wieggers, MSF bertanggung jawab atas reksa pastoral di Pelaihari dan sekitarnya.

Desa-desa yang dikunjungi para pastor antara lain Damit, Tajau Pecah dan Bumijaya, Gunung Mlati, Gunung Mas, Batu Ampar, Ambawang, Batutungku. Pada tanggal 6 Agustus 1981, Mgr.Demarteau memberkati Balai Pertemuan di Damit (St.Paulus) dan di Bumijaya (St. Fransiskus Xaverius), kemudian disusul Balai Pertemuan di Tajau Pecah (St.Paulus) pada tanggal 10 Agustus 1981.

Melihat pentingnya pembinaan umat, Keuskupan Banjarmasin kemudian mendatangkan seorang katekis untuk bertugas di Pelaihari (Benidictus Joko Sutarno). Ia bertugas membina umat, memimpin ibadat, mengajar agama (baik umat maupun anak sekolah) dan sebagainya. Agar pembinaan umat makin meningkat, maka kemudian Keuskupan Banjarmasin mengadakan pembicaraan dengan Kongregasi Suster SPM di Indonesia. Hasilnya, pada tanggal 14 Juli 1985, tiga suster SPM (Sr. Petra Sumaryati, Sr. Patrisia Suwartinem, Sr. Albertine tiba di Pelaihari. Mereka tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Keuskupan di Jl. Parit Mas 15 Pelaihari. Bagian depan rumah tersebut digunakan untuk perayaan misa, sedang bagian belakang menjadi tempat tinggal para suster. Beberapa tahun kemudian suster SPM membuka asrama putera dan puteri di situ.

Sehubungan dengan rencana kedatangan seorang pastor, Romo Timotius Karyono Sapto Nugroho, CM yang akan menetap di Pelaihari, maka pada akhir tahun 1989, Keuskupan membeli rumah baru untuk suster SPM di Jl. Gagas 32, Pelaihari. Asrama Puteri dipindahkan ke susteran yang baru, sementara itu asrama putera tetap di pastoran.

Seiring dengan berkembangnya jumlah umat, akhirnya pada tanggal 19 April 1987, Keuskupan  menetapkan Pelaihari secara resmi sebagai sebuah paroki. Pastor yang pertama kali ditempatkan adalah Romo Timotius Karyono Sapto Nugroho, CM.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *