80% Umat Membaca Kitab Suci secara Paripurna, Mungkinkah?

Ajakan mencintai Kitab Suci sejak dini

Menutup tahun konsientisasi Arah Dasar Keukupan Banjarmasin 2015, maka pada tanggal 17-19 November 2015 di Pusat Pastoral Wisma Ventimiglia diadakan pertemuan Dewan Karya Pastoral (DKP) Pleno. Pertemuan yang dihadiri para ketua komisi, dewan harian dan ketua DKP serta kuria keuskupan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan komisi sepanjang tahun 2015 dan menyusun rencana kerja tahun 2016.

Tahun kedua periodisasi Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin mengambil fokus pastoral Tahun Kitab Suci. Mengapa ditetapkan Tahun Kitab Suci? Hasil Sinode tahun 2013 yang lalu ditemukan persoalan di Keuskupan Banjarmasin, yaitu kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan perwujudan iman. Kitab Suci merupakan sumber iman. Maka di tahun 2016 nanti, umat diajak untuk kembali pada sumber iman dengan mencintai dan menggeluti Kitab Suci.

Bapa Uskup Petrus Boddeng Timang dalam sambutan pertemuan pleno DKP tersebut mengajak seluruh komponen keuskupan untuk berjalan seiring. Apapun juga karya yang dibuat Ardas merupakan tali pengikat, yang merubah cara berpikir dan cara bertindak. Struktur di keuskupan, paroki hingga komunitas dan stasi perlu sinergis, tetapi yang paling penting adalah sentuhan kepada umat. Umat perlu mengetahui kemana keuskupan ini akan berjalan. Sikap untuk berjalan sendiri-sendiri perlu ditinggalkan.

Tantangan untuk mencapai visi keuskupan pastilah ada, tetapi yang terberat justru datang dari diri sendiri: sikap pesimistis, mengeluh target terlalu berat, dan seterusnya. Jika hal seperti itu mengalahkan langkah setiap komponen di keuskupan, maka itu tandanya kurang beriman. Oleh karena itu keengganan meninggalkan zona nyaman, merasa sudah bekerja optimal, hasrat untuk membangun “menara babel” di tempat tugas masing-masing baik tersembunyi maupun terang-terangan perlu diwaspadai dan diatasi.

Tolok ukur keberhasilan Tahun Kitab Suci 2016 nanti adalah setiap keluarga memiliki Kitab Suci, 80% umat membaca Kitab Suci secara paripurna, setiap komunitas atau stasi memiliki dua pewarta. Terhadap tolok ukur keberhasilan ini, ada berbagai tanggapan yang muncul.

Setiap keluarga memiliki Kitab Suci

Pencapaian terhadap tujuan ini bukan hal yang sulit. Namun untuk pengukurannya diperlukan data. Pada bulan Mei 2015 lalu, DKP telah menyebarkan kuesioner untuk komunitas dan stasi serta paroki untuk mengetahui apakah ada keluarga yang tidak memiliki Kitab Suci. Sayangnya, hanya beberapa komunitas atau stasi serta paroki yang mengembalikan kuesioner tersebut.

80% Umat membaca Kitab Suci secara paripurna

Aneka tanggapan muncul terhadap tolok ukur ini dalam pertemuan DKP Pleno. Sebagian peserta mengungkapkan bahwa target tersebut sulit tercapai. Di stasi-stasi pelosok, sedikit umat yang bisa membaca, bagaimana mungkin mereka akan membaca secara paripurna? Terungkap juga tanggapan pesimis akan pencapaian tolok ukur ini karena melihat kenyataan bahwa umat Katolik tidak terbiasa atau tidak akrab dengan Kitab Suci.

Namun demikian, beberapa peserta menanggapi secara positif. Romo Allparis mengungkapkan bahwa target itu akan menumbuhkan kebanggaan pada umat untuk membaca Kitab Suci secara paripurna. Dalam mencapai target tersebut, umat akan menemukan mutiara iman dalam Kitab Suci. Sementara itu Romo Wahyu CM, yang berkarya di tengah umat di pedalaman menyatakan, bahwa proses dan upaya menuju target itu yang terpenting. Dengan focus pastoral Kitab Suci, maka umat diajak untuk mencintai dan menggeluti Kitab Suci. Terhadap umat yang tidak bisa membaca, Romo Wahyu akan memikirkan strategi untuk mengatasi hal tersebut.

Romo Doso selaku Direktur Pusat Pastoral menyatakan bahwa memang tolok ukur yang dimunculkan sangat tinggi dan  bahkan hampir mencapai kondisi yang ideal. Satu-satunya cara untukmencapai kondisi tersebut adalah memulai dengan membuka dan membaca Kitab Suci. Ini memerlukan perjuangan dan kerja keras dari semua pihak. Delegatus Kitab Suci akan memfasilitasi dengan memberikan pelatihan, pembinaan dan pendampingan, menyediakan materi ibadat keluarga harian dari LBI, dan lain-lain.Tiga pastor

Setiap Komunitas dan Stasi Memiliki Dua Pewarta

Pewarta yang dimaksud dalam tolok ukur ini tidak dikonotasikan dengan guru agama dan berkaitan dengan kepegawaian. Komisi kateketik, Delegatus Kitab Suci serta komisi-komisi lain yang terkait akan mengupayakan persiapan, pembinaan dan pendampingan bagi para pewarta-pewarta di paroki.

 

Untuk mencapai ketiga target tersebut setiap komisi di DKP menyusun program kerja. Komisi-komisi perlu mengacu pada periodisasi Ardas, Fokus Pastoral tahun 2016, tolok ukur pencapaian, tujuan per bidang serta dukungan paroki-paroki di Keuskupan Banjarmasin. (smr)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *