Berziarah Menuju Gereja yang Kontekstual, Berdialog, Inklusif dan Transformatif

Katekese III Visi Keuskupan Banjarmasin

 

  1. Keprihatinan yang ada:

Bapak ibu dan saudara-saudari yang terkasih, di usia Keuskupan kita yang ke-77 tahun ini patutlah kita membuat pertanyaan: seberapa besar Gereja Katolik diterima dan berpengaruh di Kalimantan Selatan? Kenyataan-kenyataan berikut, membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, sampai sekarang kita kesulitan untuk mendapatkan ijin mendirikan gereja, sekolah atau bangunan lain yang mendukung karya Gereja Katolik. Kedua, dalam kegiatan peribadatan kadang kita tidak bisa melakukannya dengan bebas. Dalam hidup bermasyarakat, umat sering kesulitan mendapatkan lapangan kerja entah sebagai pegawai negri ataupun swasta karena alasan agama. Beberapa kalangan tertentu sengaja menghembuskan isu bahwa Gereja Katolik adalah agama asing atau agama penjajah. Selain situasi ini merugikan kita, tentu saja gejala-gejala seperti itu juga  membuat kita berpikir bahwa kehadiran kita ternyata belum sepenuhnya diterima dengan baik oleh orang lain. Dari pihak kita sendiri, kalau mau jujur, sebetulnya kita sendiri seringkali sering juga tidak menerima kehadiran orang lain yang tidak seiman

2. Berziarah menuju Gereja yang kontesktual, berdialog, inklusif dan trasformatif

Bapak-ibu dan saudara-saudari terkasih, sebagai bagian dari Umat Allah, Keuskupan kita ingin berjalan bersama dalam menanggapi panggilan Allah menuju Kerajaan-Nya dengan berorientasi pada pola hidup Yesus Kristus sebagai Gembala yang baik.

Keuskupan kita ingin menjadi Gereja yang kontekstual. Artinya kita harus tahu di mana kita hidup dan dengan siapa kita hidup. Dengan demikian, kita sebagai Gereja turut bertanggung jawab meningkatkan kesejahteraan manusia di sekitar kita dan karenanya memberi sumbangan kepada kehidupan sosial dan kultural.

Keuskupan kita ingin menjadi Gereja yang berdialog. Artinya, kita harus membangun relasi dengan sesama yang beragama/keyakinan lain, berbudaya lain dan dengan berbagai lembaga dalam usaha menciptakan kerukunan dan persaudaraan yang sejati. Bersama seluruh anggota masyarakat, membangun suatu tatanan kehidupan yang bersaudara, serta melihat orang lain sebagai teman seperjalanan menuju dunia yang lebih baik.

Keuskupan kita ingin menjadi Gereja yang inklusif atau Gereja yang terbuka. Kita diajaka untuk membuka diri dan menerima keanekaragaman sosial, budaya, agama, bahasa, suku, dan ideologi masyarakat sekitarnya. Bertumbuh dan berakar dalam budaya setempat, diperkaya dan memperkaya budaya setempat. Kehadirannya tidak menjadi orang asing bagi masyarakat di sekelilingnya. Ia mampu menjadi garam dan terang dunia, menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat, diterima dan disenangi orang lain karena sifatnya yang baik dan terpuji.

Keuskupan Banjarmasin juga ingin menjadi Gereja yang transformatif atau menjadi pelaku perbaikan dalam kehidupan masyarakat kita. Kita diutus untuk mengambil bagian secara aktif sebagai agen perubahan di dalam masyarakat menuju perbaikan yang sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Injili.

3. Tindakan Konkret: Mari kita belajar bergaul dan mengenal orang-orang di sekitar kita tinggal

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *