Relasi dengan Allah dalam Liturgi

Oleh: RD. Yohanes Susilohadi (Ketua Bidang Liturgi Keuskupan Banjarmasin)

Pemahaman tentang liturgi
Liturgi adalah peran serta Allah dalam tata hidup manusia yang diterapkan dalam kehidupan menggereja. Bila dijabarkan mencakup bagaimana sikap doa, bagaimana menjalankan tata gerak, warna-warna yang dipakai, dan sebagainya. Dalam sejarah perkembangan gereja, liturgi adalah keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Gereja mewartakan dan merayakan misteri karya keselamatan Allah.
Liturgi itu luas, tidak hanya soal ekaristi. Yang paling penting dari liturgi adalah relasi manusia dengan Allah. Oleh karena itu dalam Gereja Katolik setiap sikap, tata gerak, warna memiliki makna tertentu dalam hubungan dengan hidup mengereja. Sikap kita berlutut, berdiri, membuat tanda salib, dan sikap-sikap lainnya menunjukkan bagaimana relasi atau keterkaitan kita dengan Tuhan. Demikian juga soal warna. Warna hijau menunjukkan relasi manusia dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Warna merah menunjukkan peran serta Allah dalam penderitaan dan kemartiran. Warna putih menunjukkan relasi manusia dengan Allah dalam kemuliaan.
Mengingat liturgi menyangkut relasi manusia dengan Allah, maka umat perlu memahami secara benar makna liturgi dalam perayaan-perayaan Gereja. Pemahaman yang benar perlu dimiliki umat agar umat dapat menghayati perayaan-perayaan Gereja, dan tidak hanya hadir sebagai suatu rutinitas. Beberapa hal yang perlu dilakukan agar umat memahami makna liturgi dengan benar adalah dengan memberikan katekese kepada umat. Dalam hal ini peranan imam sangat penting. Imam perlu mendorong umat untuk menghayati liturgi. Imam hendaknya juga tidak menganggap remeh norma-norma liturgi agar tidak membingungkan umat.

Kegelisahan umat Keuskupan Banjarmasin
Dalam pendalaman iman Bulan Liturgi Nasional di komunitas-komunitas dan stasi-stasi yang berlangsung pada bulan Mei lalu, banyak umat kemudian menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan liturgi. Umat menginginkan suatu kejelasan, seperti: makna simbol-simbol, tanda salib, cara menerima komuni, apakah homili bisa dibawakan oleh awam, dan lain-lain. Pada umumnya yang ditanyakan adalah hal-hal praktis. Hal ini muncul karena umat menginginkan suatu kepastian mana yang benar dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Saat ini komisi Liturgi Keuskupan Banjarmasin mengawali dengan katekese tata gerak agar ada penyeragaman. Pertimbangan untuk mengawali katekese tata gerak karena adanya kegelisahan umat yang menjumpai tata gerak di satu paroki berbeda dengan paroki lain. Untuk itu perlu diberikan pendasaran makna masing-masik gerak dalam liturgi. Komisi Liturgi berupaya mendorong para imam untuk memberikan pendasaran dalam tata gerak pada umat, misal: bagaimana hormat yang benar dan apa maknanya. Tak dapat dipungkiri bahwa sikap hormat dalam liturgi akan tergantung pada kebudayaan dan devosi masing-masing umat. Ada budaya yang menyembah sebagai suatu penghormatan, sementara budaya lain menunjukkan penghormatan dengan berdiri, atau cukup memandang. Dalam hal ini para imam perlu memberikan katekese dan menjelaskan makna liturgi yang benar. Contohnya, saat konsekrasi, yang penting umat melihat hosti dan anggur yang dikonsekrir. Mau menyembah, berdiri, dan sebagainya tergantung dari penghayatan atau devosi umat.

Prioritas Katekese Liturgi
Semua kebijakan liturgi adalah wewenang Uskup setempat. Komisi Liturgi hanya membantu. Proses yang dilakukan oleh komisi Liturgi Keuskupan Banjarmasin untuk memberikan katekese liturgi pada umat dimulai dengan mengumpulkan seksi-seksi liturgi paroki di Dekenat Barat untuk membahas kesamaan gerak dengan pendasaran yang benar. Selanjutnya, seksi-seksi liturgi paroki berkonsultasi dengan pastor paroki untuk memberikan pendasaran tata gerak yang benar kepada umat, baik itu saat kunjungan pastor ke rumah-rumah umat maupun dalam perayaan ekaristi di gereja. Pedoman yang dipakai untuk pendasaran tersebut adalah pedoman dari Komisi Liturgi KWI.
Di samping mendampingi umat dan mendorong para imam memberikan katekese liturgi, komisi Liturgi Keuskupan Banjarmasin saat ini juga berupaya menciptakan pemimpin-pemimpin ibadat dan membuat kelompok-kelompok yang terlibat dalam liturgi seperti: Prodiakon, misdinar, lektor, pemazmur, dan lain-lain. (oZo)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *