Tiga Peristiwa Berahmat

LIPUTAN KAUL KEKAL, TAHBISAN DIAKON, DAN TAHBISAN IMAM MSF

DI KEUSKUPAN BANJARMASIN :

Misa Tahbisan Diakon MSF di Paroki Keluarga Kudus Katedral

Kaul Kekal di Stasi Landasan Ulin

Gereja Stasi St. Yohanes Pemandi Landasan Landasan Ulin, Paroki Bunda Maria Banjarbaru menjadi saksi kaul kekal Fr. Tarsisius Asmat, MSF, Minggu, 29 April 2018 lalu.

Frater kelahiran Manggarai Barat, 22 November 1986 tersebut mengucapkan kaul kekalnya dalam Tarekat MSF di hadapan Provinsial MSF Provinsi Kalimantan Rm. Yakobus Lingai Imang, MSF dan sekitar 40 orang imam MSF lainnya yang berdiri di sekitar altar. Misa dan pengikraran kaul kekal tersebut dimulai pada pukul 10.00 WITA, dengan diiringi nyanyian koor kelompok paduan suara Stasi Landasan Ulin “Soli Deo”.

Mengawali homilinya, Rm. Lingai, MSF mengemukakan adanya beberapa cara hidup. “Yang biasa kita kenal adalah cara hidup berkeluarga. Dan ada cara hidup yang lain yaitu menjadi biarawan dan biarawati yang hidup dalam komunitas-komunitas. Selain itu ada kelompok yang lebih kecil lagi yang disebut hirarkhi/kaum klerus/para imam dan diakon.”

Menurut Rm. Lingai, MSF, dalam hidup berkeluarga terdapat sakramen perkawinan yang seringkali kita saksikan. “Dua cara hidup yang saya sebutkan terakhir, ada pengikraran kaul oleh para biarawan dan biarawati. Sedangkan para imam, diakon, dan uskup ada pentahbisannya. Dan yang kita saksikan hari ini adalah cara hidup kedua yang tadi sudah saya sebutkan tadi. Peristiwa ini menjadi kesaksian iman kita sebagai orang Kristiani.”

Provinsial MSF Kalimantan menekankan kendati di wilayah paroki maupun stasi terdapat komunitas-komunitas religius dan biara-biara, ada baiknya kita juga mengenal keberadaannya. Secara umum banyak ciri khas yang hampir sama yang dapat kita jumpai pada biara atau komunitas religius tersebut.

“Tiga ciri khas di antaranya adalah: pertama, 1 (satu) rumah biara atau komunitas religius biasanya dihuni oleh minimal 2 orang; kedua, para pastor, bruder, suster yang tinggal di biara tersebut biasanya mempunyai karya perutusan tertentu yang mau mengungkapkan kasih Allah yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari; dan ketiga, hidup doa dalam arti yang luas dalam bentuk berbagai devosi untuk menghayati kasih Allah yang menjadi sumber dan tujuan kehidupan para imam, biarawan maupun biarawati. Hidup mereka adalah hidup sesuai dengan nasehat Injili,” ujar Rm. Lingai, MSF menjelaskan.

Misa berakhir sekitar pukul 12.30 WITA dan dilanjutkan dengan ramah tamah di halaman Gereja yang diisi dengan acara hiburan yang menampilkan persembahan tarian dan lagu dari wilayah dan komunitas yang ada sekaligus santap bersama.

 

Dua Segi Pelayanan Seorang Diakon

Keesokan harinya, Senin, 30 April 2018, bertempat di Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, Uskup Keuskupan Palangkaraya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmana, MSF selaku konselebran utama, didampingi Rm. Yakobus Lingai Imang serta Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin Rm. Krispinus Cosmas Boli Tukan, MSF memimpin misa tahbisan Diakon Fr.  Tarsisius Asmat, MSF dan Fr. Yeremias Benediktus Sae Snae, MSF.

37 imam dari berbagai tarekat dan 1 orang diakon MSF hadir dalam misa yang dimulai pukul 18.00 WITA tersebut.

Mgr. Sutrisnaatmaka dalam homilinya menyatakan bahwa tahbisan diakon merupakan langkah yang menjadikan kedua diakon ini semakin jelas mengejar imamatnya. “Pada saat ini memang tidak mudah untuk dapat menjadi calon imam. Mengingat ada perlbagai hal yang mempengaruhi panggilan ini. Untuk hal-hal yang religius, bersifat rohani, kadang-kadang tidak menarik. Namun dengan adanya dua saudara kita ini, menjadi tanda bahwa Gereja tetap melanjutkan langkahnya,” ucap Uskup Keuskupan Palangkaraya.

Bacaan Injil malam itu hendak mengatakan apa yang disampaikan Bunda Maria, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Selanjutnya Uskup Keuskupan Palangkaraya mengemukakan tentang makna diakon. ”Diakon berarti pelayan atau yang melayani. Sehingga untuk itu dibutuhkan bekal untuk melakukan pelayanan. Dari kekayaan itulah, seorang diakon yang melayani harus melayani dan memberi.”

Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF mengungkapkan bahwa ada 2 segi pelayanan dari seorang diakon. “Pertama, segi keberanian untuk melayani dengan sungguh-sungguh. Dengan ketaatan yang terkadang bertolak belakang dengan keinginan diri kita sendiri. Sama seperti Bunda Maria tadi yang tidak tahu harus berbuat apa ketika diminta mengandung Yesus. Bunda Maria kemudian menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Ketaatan inilah yang mau ditegaskan dalam tahbisan diakon ini. Kedua, adalah pelayanan yang didasari oleh dedikasi pemberian diri yang sepenuh-penuhnya, akan dilangsungkan sampai seumur hidup. Itu akan menjadi tantangan yang tidak mudah di jaman kita sekarang ini.”

Uskup Keuskupan Palangkaraya menguatkan para diakon agar terus maju karena Allah sendiri yang akan mendampingi. “Kita dimungkinkan untuk bertahan sampai seumur hidup. Nanti akan dikuatkan dalam tahbisan imamat.”

Lebih lanjut Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF mengatakan bahwa untuk mendukung panggilannya, seorang diakon harus mendoakan ibadat harian dengan tekun. “Ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa, karena kekuatan doa. Sebab pemberian diri seorang diakon harus diawali dengan ketekunan dalam hal berdoa.”

Malam itu, Provinsial MSF Kalimantan mengumumkan tugas perutusan yang akan diemban oleh kedua diakon baru. Fr. Diakon Tarsisius Asmat, MSF ditugaskan menjalani masa diakonat di Paroki Katedral Banjarmasin, Keuskupan Banjarmasin. Sedangkan Fr. Diakon Yeremias Sae Snae, MSF mendapat tugas menjalani masa diakonat di Paroki St. Paulus Lambing, Keuskupan Agung Samarinda.

Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan santap malam bersama seluruh imam, umat, dan tamu undangan yang hadir malam itu. Bertempat di halaman Gereja Katedral Banjarmasin, kegiatan berlangsung meriah seraya turut serta bersukacita atas gelaran tahbisan diakon malam itu.

 

Diawali Penyerahan Ayam Jantan dan Sebotol Arak

Berkat Perdana dari Pastor Sony Garsa MSF

Pagi itu, Selasa, 1 Mei 2018, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, dilangsungkan tahbisan imamat Fr. Diakon Sonitus Garsa Bambang, MSF. Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 09.00 WITA dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Palangkaraya Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, didampingi 40 imam berbagai tarekat dan 2 diakon MSF.

Sesaat sebelum Misa dimulai, di aula Gaudium diadakan upacara adat Manggarai, dimana kedua orang tua calon tertahbis menyerahkan anaknya untuk ditahbiskan sebagai imam MSF kepada Uskup Keuskupan Palangkaraya. Sebagai tanda penyerahan total, pihak keluarga mengawali ritual adat dengan menyerahkan satu ekor ayam jantan berbulu putih dan sebotol arak kepada Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF.

Selanjutnya, perarakan pun memasuki ruangan gereja dengan tarian khas Manggarai di barisan paling depan, diikuti oleh keluarga calon tertahbis, para imam dan uskup.

Dalam homilinya, Mgr. Sutrisnaatmaka mengatakan, “Pada kesempatan berbahagia dan penuh syukur ini kita mau merenungkan apa makna dari tahbisan imam ini, bagi yang bersangkutan, maupun bagi kita semua umat yang berkumpul untuk mendukung dan mendoakan imam tertahbis.”

Menurut Uskup Keuskupan Palangkaraya, ketika kita sudah dipilih untuk menjadi imam atau menjadi apa menurut panggilan kita masing-masing, yang dituntut adalah sikap rendah hati. “Kita tidak boleh menyombongkan diri seolah-olah apa yang kita peroleh itu dari kekuatan kita sendiri. Allah-lah yang memberikan segala sesuatu, para rasul, dan juga petugas-petugas gereja yang lain. Dan Kristus sendirilah yang memberikan kekuatan, kearifan kepada kaum lemah. Yang tadinya hina kemudian diangkat menjadi mulia dalam tugas kita masing-masing.”

Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF mengingatkan bahwa seorang tertahbis adalah man of God (orangnya Allah) dan mereka menjadi man for others (menjadi orang yang sepenuhnya menjadi pelayan bagi orang lain). “Bukan 50% Allah dan 50% manusia, melainkan 100% berasal dari Allah dan diperuntukkan 100% bagi pelayanan sesama. Menjadi seorang tertahbis itu adalah semata-mata untuk melaksanakan kehendak Allah. Sepenuh-penuhnya mengandalkan Kristus, dan sepenuh dirinya diabdikan sampai mati untuk pelayanan bagi sesama.”

Menjelang akhir homilinya, Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF berharap kiranya dari keluarga-keluarga Katolik dapat tumbuh benih-benih panggilan yang baik yang dipersembahkan bagi Gereja.

Provinsial MSF Kalimantan mengumumkan bahwa Rm. Sonitus Garsa Bambang, MSF ditugaskan menjalani tugas menjadi pastor rekan di Paroki Paroki St. Fransiskus Asisi, Parenggean, Keuskupan Palangkaraya.

Usai Misa Tahbisan Imamat, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi hiburan yang digelar di halaman Gereja setempat. Hiburan dipersembahkan oleh para pastor MSF, komunitas suster SPC Banjarbaru, Komunitas suster SCMM Banjarbaru, OMK Banjarbaru, OMK Stasi Landasan Ulin, dan siswa-siswi SMP Sanjaya Banjarbaru, umat Paroki Parenggean (Keuskupan Palangkaraya), dan sahabat MSF Paroki St. Petrus dan Paulus Ampah – Barito Timur.

(Dionisius Agus Puguh Santosa)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *