Loksado Bak Potongan Surga

Indahnya budaya dan kekayaan alam Kalimantan Selatan, sudah selayaknya dinikmati dan dicintai warganya sendiri. Kali ini kearifan lokal hadir kembali menuturkan bagian dari wilayah Banua, kami mengandaikan sebagai potongan surga yang layak untuk disinggahi.

Tempat tersebut bernama Loksado, terletak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Akses jalan dari Banjarmasin ke Loksado berupa aspal yang lumayan mulus, bisa ditempuh dengan mobil atau bus mini selama empat jam. Informasi yang melimpah melalui situs-situs web resmi pemerintah, travel, blog dan youtube membuat kita tidak perlu kebingungan untuk menyusur tujuan wisata Loksado. Informasi biayapun sudah akurat sehingga kita bisa memperkirakan budget yang perlu disiapkan. Bila ingin menginap, telah tersedia penginapan yang sederhana dengan tarif seratus lima puluh ribu per malam hingga penginapan dengan fasilitas setara hotel dengan tarif mulai dari empat ratus empat puluh ribu rupiah semalam. Tersedia juga villa di sebuah resort dengan daya tampung 15 orang dewasa seharga satu setengah juta rupiah semalam.

Loksado menawarkan pesona wisata yang kaya, karena didukung oleh tempat-tempat wisata lainnya, berjajar dari Kota Kabupaten Kandangan hingga Loksado. Tidak melulu satu kesamaan pariwisata keindahan alam, namun juga menawarkan wisata kuliner, budaya masyarakat Dayak Meratus dan situs sejarah perjuangan kemerdekaan Kalimantan Selatan.

Sebut saja kawasan bukit-bukit nan eksotis seperti: Batu Bini, Gunung Payung, Bukit Palawan dan Bukit Halinjuangan yang ditata seperti Puncak Becici atau Hutan Wisata Mangunan di Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, kawasan wisata seperti Bukit Palawan yang baru ditata sekitar setahunan tersebut memerlukan usaha pengelolaan lebih serius agar mampu menjadi daya tarik wisata alam berkesinambungan.

Perjalanan dari Bukit Palawan dilanjutkan sampai ke ujung pertigaan menyeberang Sungai Amandit. Kita bisa memilih dua lokasi wisata, ke kiri 1,5 km ke arah Pemandian Air Panas Tanuhi dan ke kanan sejauh 6 km adalah Desa Loksado.

Warga Loksado sudah akrab dengan kegiatan ekowisata. Wisata berbasis ekologi. Tempat ini menjual suasana keteduhan desa dan hutan, keindahan aliran Sungai Amandit yang jernih dan berbatu-batu, Menikmati perjalanan rakit bambu, air terjun dengan berbagai ketinggian yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau memanfaatkan ojek, dan juga aktivitas budaya masyarakat Dayak Loksado dalam kehidupan kesehariannya. Banyak juga tersedia dengan resort-resort bernuansa alami namun bersih. Sarpani (25) seorang karyawan resort yang kami tinggali menjelaskan dengan detail dan sopan segala keperluan informasi, membantu mengusahakan perlengkapan barbeque atau api unggun, mengaturkan wisata balanting paring alias menyusur sungai dengan rakit bambu, dan pemesanan ojek jika diperlukan. Masyarakat yang sudah terlibat dalam usaha ini sadar betul menjaga kepercayaan wisatawan.

Kami memesan paket wisata balanting paring dengan tarif tiga ratus ribu untuk tiga orang penumpang dan ojek mengantar kembali ke resort seharga dua puluh lima ribu per orang. Jam 07.30 pagi, suhu udara masih dingin, sebuah rakit bambu telah tersedia di tepi Sungai Amandit di bantaran resort. Seorang tua yang sudah berumur menyambut kami dengan ramah, Abah Atal (61) biasa dipanggil. Rakitnya sudah disusun sebanyak 14 bambu dengan panjang 10 m diikat dengan bambu segar di empat tempat, di bagian mendekati buritan ada tempat untuk duduk terbuat dari potongan bambu cukup untuk tiga orang. Air sungai agak surut, kedalaman air antara 30 cm – 2 m. Ketika meluncur, penumpang akan merasakan adrenalin yang membuncah, apalagi ketika melalui riam-riam batuan beku ukuran kecil maupun besar. Air yang memercik memberikan sensasi tersendiri. Kami tidak merasa takut karena sang pilot rakit ini begitu piawai memainkan paring tali atau batang bambu kemudi, ke kanan dan ke kiri menjajak dasar sungai atau bebatuan.

Ketika menyusur sungai di lembah Pegunungan Meratus itu, kami menyaksikan hutan, kebun, ladang dan desa yang silih berganti, sehingga perjalanan tidak monoton. Kami masih sempat juga melihat owa Kalimantan (Hylobates sp) sejenis primata, berayun di pucuk pohon meranti yang tinggi. Perjalanan menyusuri aliran Sungai Amandit ditempuh selama 2,5 jam dan berhenti di Desa Niih. Desa tersebut memiliki nilai sejarah karena menjadi Markas Besar Rahasia ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan di bawah pimpinan Hassan Basry menjelang agresi Militer Belanda setelah proklamasi kemerdekaan. Di Desa Niih kita jumpai Monumen Proklamasi 17 Mei 1949.

Sempatkan mampir di “potongan surga” terdekat! (oZo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *