MARGARETHA LILY PANGESTU: Mempercantik di Saat Akhir

Perempuan berusia lewat tujuh puluh tahun ini terlihat gembira karena sedang menikmati libur panjang bersama anak, cucu dan besannya ketika kami bertemu secara tidak sengaja. Perjumpaan ini kami anggap telah diatur Tuhan, begitu kami punya waktu ngobrol santai, kami banyak mendapatkan kesaksian pengalaman iman yang patut diketahui banyak orang.

Tante Pang, begitu kami memanggilnya, merupakan wanita suku Tionghoa, berperawakan gemuk setinggi wanita Indonesia umumnya. Penampilannya rapi, dengan wajah selalu tampak bersih dirias dengan gambar alis mata, bedak dan bibir merah. Siapa sangka Tante Pang menekuni panggilan pengabdian pada pelayanan seputar kematian? Ia memiliki kemampuan merawat dan merias jenazah wanita, mempercantik di saat akhir.

Kapan terpanggil menjadi perias jenazah?                                                                                 

Kejadiannya sudah belasan tahun lalu. Ada teman anak saya,  waktu itu kelas enam SD, meninggal mendadak karena sakit jantung. Jenazah dibawa ke Mulia Sejahtera (perkumpulan sosial masyarakat dengan fasilitas rumah duka di Banjarmasin-red). Jenazah sudah dibersihkan dari rumah sakit dan disemayamkan dengan baju yang indah, tetapi wajahnya belum dirias. Mamanya menangis karena tidak ada salon atau perias kecantikan yang bersedia merias wajah putrinya. Dengan berbagai cara diupayakan pada para perias: peralatan make up disediakan sendiri atau mengutus karyawannya saja, namun tetap tidak ada yang bersedia.

Waktu itu saya melayat dan duduk di dekatnya. Saya merasa ada yang mengangkat badan saya dan mendorong–dorong supaya berdiri dan membantu. Saya bereaksi dengan menahan diri dan berpegang pada tempat duduk. Namun kemudian saya mendengar seperti ada suara: itu ditolong! Akhirnya saya berdiri: Sini saya kerjakan. Puji Tuhan, tak saya sangka hasilnya bagus! Sejak saat itulah orang-orang tahu dan saya banyak dipanggil untuk memake up-kan jenazah wanita di kota Banjarmasin.

Punya keahlian khusus merias wajah?

Tidak. Hanya saja, saya terrbiasa merias wajah sendiri atau merias wajah anak perempuan saya waktu ada acara khusus. Saya memiliki keahlian memotong dan mengeriting rambut.

Kiat khusus saat merawat dan merias jenazah?

Jika kita mengerjakan dengan tulus maka iman dan kasih kita kepada Tuhan itu yang utama. Kita merawat jenazah harus rendah hati dan harus komitmen sampai selesai, sampai bagus, jangan mengerjakan setengah-setengah. Sebelum mengerjakan kita harus masuk dalam doa, kita minta perlindungan Tuhan supaya kita dan keluarga kita jangan sampai kena macam-macam atau hal yang jahat atau negatif. Saya selalu mendaraskan doa perlindungan kepada Darah Yesus yang kudus dan mulia untuk melindungi saya dan keluarga. Kita jangan memandang keadaan fisik atau perilaku orangnya semasa hidup, tetapi kita anggap merawat Yesus sendiri. Doa saya: Yesus ini kulakukan untuk merawat-Mu, aku mencintai-Mu. Sungguh, orangnya jadi cantik. Pada saat orang dibaptis, mereka telah dimaterai Allah, kita milik Yesus dan tidak dapat dihilangkan oleh apapun juga. Kita pandang orang ini milik siapa? Itu memberikan kekuatan kepada kita untuk merawat sebaik mungkin. Saya biasa membersihkan jenazah yang sudah tidak segar lagi, meski sudah menggunakan masker, bau itu masih menyengat. Namun saya mendapat kekuatan sampai selesai merawat jenazah dengan baik.

Kepuasan apa yang didapat?

Ketika mulanya jenazah berpenampilan biasa dan dirawat serta dimake up menjadi cantik, seperti hendak berangkat ke pesta, saya merasakan suatu kebahagiaan. Saya merasa Tuhan memberkati, menguatkan dan menambah iman saya. Saya dikuatkan dalam pelayanan ini karena merasakan pendampingan Yesus dan Bunda Maria di kanan kiri saya, di belakang dijaga malaikat pelindung.

Apakah anda merawat jenazah selain orang Kristen?

Ada, umat Budha bisa juga saya rawat. Jika dari perkumpulan sosial Mulia Sejahtera sering memanggil saya. Jenazah yang datang dari rumah sakit biasanya sudah dimandikan, namun demikian jika belum dimandikan saya bisa mengerjakannya dengan mengeramasi dan memandikannya dengan bunga supaya harum. Untuk memasangkan pakaiannya saya meminta bantuan keluarga atau orang lain karena saya tidak kuat menggerakkan badan jenazah sendirian. Untuk memake up wajah saya kerjakan sendiri.

Selain keahlian di atas, Margaretha Lily Pangestu juga memiliki aktivitas sebagai Ketua Komunitas, penggerak di wilayah, aktif di kelompok kategorial Santa Monica dan Komunitas Triunggal Mahakudus. Situasi umum dihadapinya dalam mendampingi komunitas dan wilayah.

Berkaitan dengan kegiatan di paroki apa yang dirasakan?

Kami mengalami kesulitan mencari ketua komunitas dan ketua wilayah. Situasi yang anggota komunitas hadapi adalah kesibukan kerja sampai larut, sampai di rumah sudah capai, habis pulang kerja masih harus mengurus keperluan rumah tangga seperti mencuci, masak, dan mengurus keluarga. Saya memiliki berkat waktu yang banyak, pengalaman menjadi pengurus komunitas dan wilayah saya tidak merasa capai. Bila kita niatkan untuk pelayanan janganlah berat hati, ikhlaskan saja tenaga kita dipakai, Tuhan pasti menambahkan kekuatan jika kita dipakai. Puji Tuhan sampai dengan usia 71 tahun saya tidak mengalami sakit yang berarti, saya diberi kesehatan oleh Tuhan. Ibaratnya saya diberi kecukupan hidup oleh Tuhan. Sudah syukur-ai saya.

Waktu saya ikut triduum (rekoleksi pengurus Dewan Pastoral Paroki -Red) yang baru lalu, saya merasa senang karena banyak saya temui tenaga-tenaga muda pengurus baru, bagus itu! Yang tuanya tinggal saya dan beberapa rekan. Saya bersyukur menggunakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan. Saya ingin menjadi berkat sampai saat saya berpulang, tidak ingin menjadi orang yang tidak berdaya.

Apakah anda baptis sejak bayi?

Keluarga saya bukan pemeluk agama Katolik. Saya tertarik menjadi Katolik karena sekolah di Santa Maria Banjarmasin, menjadi katekumen saat kelas tiga SMP Santa Maria. Saya dibaptis pastor Heijne, MSF di Paroki Kelayan Banjarmasin. Kami dianugerahi 4 anak dan 8 cucu. Suami saya sudah meninggal. Pada mulanya kami dulu menikah beda agama. Saya merindukan keluarga satu iman, namun kebersamaan tersebut tidak bisa dipaksa. Saya doa novena, dan doa-doa permohonan yang lainnya selama dua puluh tahun tanpa putus supaya kami bisa berjalan satu biduk. Dalam perjalanan waktu keluarga besar saya banyak memeluk Katolik, termasuk orang tua saya. Suatu kali saya dan suami bisa berangkat retret ke Tumpang. Subuh-subuh kami mendengar suara lagu Bapa Kami yang lembut. Rupanya berasal dari kapel. Kami masuk ke dalam kapel dan menjumpai para suster rubiah karmel sedang berdoa. Saya duduk di belakang para suster dan saya merinding mendengarnya, Suami saya mengikuti dari belakang. suara Suster itu sungguh indah dan suami saya pun sampai menangis menghayatinya. Selepas dari tumpang suami saya belajar agama Katolik menjadi katekumen dan akhirnya dibaptis. Terjawab sudah doa saya selama dua puluh tahun hidup sebagai suami isteri.

Menutup pembicaraan kami, Tante Pang berpesan agar banyak kaum muda ikut ambil bagian dalam kehidupan menggereja, kalau bukan sekarang kapan lagi? (smr & oZo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *