Seminar Musik dan Nyanyian Liturgi

Membawa Manusia kepada Tuhan

 

Menandai Bulan Liturgi Nasional 2018, Komisi Liturgi Keuskupan Banjarmasin menyelenggarakan Seminar Liturgi berkaitan dengan “Musik dan Nyanyian Liturgi Perkawinan serta Liturgi Pekan Suci” Seminar yang diikuti oleh sekitar 250 orang Prodiakon/Asisten Imam, Pemimpin Ibadat, Dirigen serta Pelatih Koor tersebut diadakan pada 28-29 Mei 2018 di Aula Sasana Bhakti, Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, Veteran Banjarmasin.

Dalam pemaparannya, Sekretaris Komisi Liturgi, RD. Yohanes Rusae menguraikan peran serta beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam musik dan nyanyian liturgi.

 

Peran Musik dan Nyanyian dalam Liturgi

Dalam perayaan liturgis,  musik dan nyanyian berperan sangat penting karena bila dirayakan dengan nyanyian, maka perayaan liturgis tersebut akan:

  1. Menjadi lebih agung.
  2. Melalui nyanyian, doa-doa diungkapkan secara lebih menarik.
  3. Misteri liturgy dinyatakan secara lebih jelas
  4. Dengan perpaduan suara, kesatuan hati dapat dicapai dengan lebih mendalam.
  5. Hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat upacara kudus.
  6. Seluruh perayaan akan lebih jelas mempralambangkan liturgy surgawi yang dilaksanakan di kota Yerusalem baru.

Mengingat pentingnya nyanyian liturgi, maka para petugas liturgi hendaknya dapat menunaikan tugas pelayanannya dengan baik dan umat dapat berpartisipasi di dalamnya. Para gembala umat pun hendaknya berusaha semaksimal mungkin menciptakan perayaan dengan nyanyian. Oleh karenanya persiapan praktis dari setiap perayaan liturgi dilaksanakan dalam semangat kerjasama antar semua pihak yang terkait di bawah bimbingan pastor paroki, entah itu di bidang ritual, pastoral, maupun musik.

 

Nyanyian selama Misa

Dalam Perayaan Ekaristi bersama umat, khususnya hari Minggu dan Hari Raya, misa dengan nyanyian hendaknya diutamakan kendati harus ada beberapa misa pada hari yang sama. Bagian-bagian dalam misa yang harus dinyanyikan adalah sebagai berikut:

  1. Jawaban atau aklamasi pada:
  2. Ritus Pembuka: Salam imam dan Doa Pembukaan
  3. Liturgi sabda: Aklamasi Injil
  4. Liturgi Ekaristi: Doa Persembahan, Prefasi dengan dialog pembuka dan Kudus, Doksologi Penutup Doa Syukur Agung, Doa Bapa Kami, Salam damai, Doa sesudah komuni.
  5. Ritus Penutup

Bagian-bagian tersebut harus dinyanyikan oleh imam atau pembantunya dengan jawaban umat atau imam dan umat menyanyikan bersama-sama.

Kudus sebagai aklamasi penutup atau prefasi, hendaknya dinyanyikan oleh seluruh jemaat bersama dengan imam.

Lagu Bapa Kami paling baik dibawakan bersama-sama oleh umat dan imam. Kalau lagu ini dibawakan dalam Bahasa Latin, hendaknya dipakai lagu yang sudah disahkan. Tetapi kalau dinyanyikan dalam bahasa pribumi, hendaknya lagu itu sudah disahkan oleh pimpinan gerejawi setempat yang berwenang.

  1. Ordinarium atau bagian dari Perayaan Ekaristi yang selalu sama atau tetap, yang meliputi:
  2. Tuhan kasihanilah kami, Kemuliaan, Anak Domba Allah.

Bagian-bagian tersebut dapat ditambahkan nyanyian seperlunya, misalnya bagian yang hanya dinyanyikan oleh umat atau koor.

Anak Domba Allah merupakan nyanyian iringan pemecahan roti. Nyanyian ini dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan, khususnya dalam misa konselebrasi. Diharapkan umat ambil bagian dalam lagu ini, sekurang-kurangnya pada seruan terakhir.

  1. Syahadat Iman/Aku Percaya

Syahadat sebagai suatu rumus pengakuan iman sebaiknya dinyanyikan oleh semua, atau dinyanyikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan partisipasi kaum beriman.

  1. Doa umat.
  2. Proprium atau bagian Perayaan Ekaristi yang bersifat tematis atau khusus sesuai perayaan yang diselenggarakan, meliputi:
  3. Nyanyian Perarakan Masuk dan Nyanyian Komuni.

Kebiasaan untuk menggantikan nyanyian pembuka, persiapan persembahan dan perarakan persembahan, komuni dari Buku Graduale Romanum (= buku yang berisi nyanyian Gregorian untuk Perayaan Ekaristi dalam Bahasa Latin) dengan lagu-lagu lain diperbolehkan sejauh lagu-lagu tersebut cocok dengan bagian-bagian Perayaan Ekaristi, dengan pesta atau masa liturgi. Pimpinan gerejawi setempat berwenang (Uskup) mengesahkan lagu-lagu tersebut.

  1. Mazmur Tanggapan sesudah Bacaan Pertama

Mazmur Tanggapan memiliki makna khusus di antara lagu-lagu prorium karena lagu-lagu ini merupakan bagian yang utuh dari Liturgi Sabda. Sebaiknya lagu ini dibawakan sementara jemaat duduk sambil mendengarkan, dan lebih baik lagi kalau mereka sedapat mungkin berpartisipasi di dalamnya.

  1. Alleluya sebelum Injil
  2. Nyanyian Persiapan Persembahan
  3. Bacaan-bacaan – kecuali bila dianggap lebih baik dibacakan saja.

Dalam seminar yang berlangsung dua hari itu, RD. Yohanes Rusae menegaskan bahwa maksud dan tujuan  musik dan nyanyian liturgi adalah membawa manusia kepada Tuhan. Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan Qui Bene Cantat Bis Orat yang berarti bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali. (smr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *